Sejak saya lahir, saya diajarkan untuk berbahasa Indonesia meskipun di rumah, orang tua saya sering menggunakan bahasa Jawa untuk bercakap-cakap setiap hari. Keberuntungan itu pun saya dapat karena saya tinggal di Jakarta, karena hampir penduduk Jakarta adalah Urban, sehingga mereka pasti menggunakan Bahasa Indonesia untuk dimengerti dibanding bahasa daerah asal mereka.
Bahasa Indonesia sudah sangat melekat pada diri masyarakat Indonesia, walaupun terkadang kita sering berbahasa yang tidak baik secara tata bahasa dan, namun menurut saya; ketika kita memilih untuk memakai bahasa yang tidak formal tak ada salahnya ketika kita berbicara dengan orang sebaya atau acara yang tidak formal, jika sebaliknya maka itu merupakan suatu kesalahan.
Ada pula orang yang sering menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa asing lain, menurut saya ini adalah hal yang wajar karena dijaman globalisasi ini berbabagai macam bahasa singgah dikehidupan kita dan ada beberapa kata yang memang bahasa aslinya bahasa asing tidak enak jika di-Indonesiakan, namun yang paling penting ialah tahu waktu kapan kita kita harus berbicara Bahasa Indonsia yang baik dan benar serta kapan kita dapat menggunakan Bahasa Indonesia versi kita.
Salah satu sastra Bahasa Indonesia yang saya sukai ialah puisi. Puisi mempunyai banyak makna yang disampaikan secara tidak langsung, serta kata- kata puitis yang membuat kita menerka pesan yang dikandungnya.
Sajak sang Penyair
Oleh Maya Novita Sari
Ku dengar sajak-sajak manja
Khas Rama dan pujaannya
Bertutur, bergumam mesra
Oh, aduhai aku dibuatnya
Ku dengar lagi sajak-sajak haru
Kisah Ibu, Pahlawan dan matiku
Tentang telur dalam eraman,
diinjak kawan disangka lawan
atau menunggu hari,
Biar nanti pecah sendiri
Oh, inginku dengar lagi
Sajak-sajak indah pujangga lain
Atau sajak indah Penyair lilin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar