Perjuangan Hidupku
Genap kumasuki usiaku tahun ini. Hampir, 18 tahun aku menghirup udara yang semakin lama semakin sesak kurasa. Kumulai sesak itu ketika kumasuki akhir kelas 2-ku, petaka untuk keluargaku dimulai. Perceraian. Dari Sukabumi, kelas 3-ku kulanjutkan di Jakarta dan menetap dengan Om dan Tanteku, sedangkan kakak dengan ayahku.
Jakarta bukan merupakan hal yang baru untukku. Aku tinggal didaerah Tanah Abang—daerah rapat penduduk dan keras pergaulannya. Tak kusangka, kakakku pun tergilas oleh kerasnya lingkungan. Akhirnya, kami memutuskan untuk pindah ke daerah Jakarta Selatan.
SMPN 68 Jakarta merupakan awal baru untukku. Disekolah ini aku menemukan teman- teman dengan kualitas dan pemikiran yang lebih baik. Namun, butuh adaptasi besar untuk bertahan. Diawal aku merasa asing sehingga tak betah disekolah, dan akhirnya aku sering membolos yang mengancam kenaikan kelas 2-ku. Ternyata, Tuhan selamatkan dan sadarkan aku, sejak itu aku berjanji akan berubah demi kehidupan yang lebih baik.
Pendidikanku pun berlanjut di SMK favoritku; SMKN 57. Namun, masalah pun datang ketika Omku bercerita akan berhenti mengurusiku karena kesulitan biaya dan perceraian yang sangat memukulnya. Oh Tuhan, sungguh aku tak punya tempat bersandar selain dia. Setelah berbicara dari hati ke hati, akhirnya ia bersedia mengurusiku lagi.
Masa ini adalah masa sulit bagiku, hidup berdua dengan Omku. Aku rindu keluarga yang utuh. Tetapi aku harus terus berjalan, dari setiap kesulitan disitu kita akan belajar. Sekarang nafasku terasa lebih baik karena hasilnya aku terdaftar sebagai Penerima English Access Microscholarship yang menjadi gerbang awal beasiswaku untuk beasiswa selanjutnya, tanteku pun rujuk kembali serta semua pengalaman yang kulalui membuatku semakin dewasa.
Ini adalah essayku untuk Program Beasiswa Paramadina Fellowship 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar